Pesan Buku di Sini

Buku-buku di bawah ini bisa dipesan langsung melalui blog saya. Beberapa masih bisa ditemukan di toko buku, beberapa hanya tinggal beberapa kopi di gudang penerbit. Semoga ini membantu teman-teman yang mencari buku saya (dan Ratih Kumala) tapi tak menemukannya di toko buku, atau malas ke toko buku, atau memang tak ada toko buku.

Buku-buku Eka Kurniawan

Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1257-4
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 35.000,-
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1348-1
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 37.500,-

Baca selengkapnya …

  • 13-03-2010 · Maaf nih, karena sibuk nulis, jadi jarang ngeblog. Sebagai gantinya saya mau kasih oleh-oleh berupa buku kumpulan cerpen “Cinta Tak Ada Mati” untuk dua orang pengunjung blog ini yang menjawab pertanyaan berikut: “Kenapa kamu suka membaca?” Pemenang tidak akan diundi, tapi akan saya pilih sendiri yang asyik buat saya. Sila jawab di bagian komentar. Komentar akan ditutup 21 Maret 2010. NB. Berlaku hanya untuk yang memiliki alamat pengiriman pos di Indonesia :-) (42 Pesan)

Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

Oleh: Sica Harum
Sumber: Media Indonesia

MUNGKIN Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil–biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad–yang besar di Tanjung Karang, Lampung.
Baca selengkapnya …

Budak Setan Menafsir Horor

Oleh: Ismi Wahid
Sumber: Tempo Interaktif

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”
(Riwayat Kesendirian, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan–lebih mirip terigu menggumpal tersapu air–dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.
(Goyang Penasaran, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam sama telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.
(Hidung Iblis, Ugoran Prasad)
Baca selengkapnya …

Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor
(Wawancara dengan Intan Paramaditha)

Oleh: Ismi Wahid
Sumber: Tempo Interaktif

Buku kumpulan cerita horor Kumpulan Budak Setan akan diluncurkan malam ini di Komunitas Salihara, Jalan Salihara Nomor 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buku itu berisi 12 cerpen karya Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.

Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an. Pada masanya, Abdullah adalah penulis paling produktif di antara penulis horor lainnya, seperti S.B Chandra dan Fredy S.

Meski karya Abdullah sangat popular dan cenderung picisan, tetapi ketiga penulis ini sangat berminat untuk menafsirnya. Berikut ini wawancara Tempo dengan Intan Paramaditha, salah satu penulis di buku tersebut.
Baca selengkapnya …

Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap

Oleh: Akhmad Sekhu
Sumber: Suara Merdeka

Masih ingatkah Anda pada Abdullah Harahap? Bagi Anda yang menyukai cerita-cerita horor sekitar tahun 70-80-an tentu ingat betul Abdullah Harahap yang selalu bercerita seputar balas dendam, seks, pembunuhan, serta motif-motif cerita setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Tapi bagi Anda yang tidak ingat karena tidak tahu, jangan khawatir karena Anda sekarang akan diajak tiga penulis muda berbakat; Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad untuk melacak jejak cerita-cerita horor yang diusung Abdullah Harahap dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Budak Setan”

Baca selengkapnya …

Bila Novel Ditulis di Blog (“Club Camilan”)


Sudah menjadi rahasia umum gaya penulisan blog memiliki karakteristik yang mulai menjadi tipikal. Di satu sisi, ia seringkali bersifat personal seperti catatan harian. Tapi di sisi lain, ia juga bersifat publik sebagaimana media massa umumnya. Begitulah, blog berada di antara keduanya: personal sekaligus publik.

Pendekatan seperti itu pula yang dilakukan kebanyakan media massa arus utama ketika mendelegasikan jurnalisnya agar menulis blog. Koran-koran seperti The Washington Post hingga Kompas, tak hanya menyediakan konten beritanya dalam versi daring, tapi juga menyediakan ruang bagi jurnalisnya menulis secara personal melalui blog yang difasilitasi oleh media induknya. Blog-blog semacam ini, tak hanya tetap patuh pada kaidah-kaidah jurnalistik dalam penanganan fakta, tapi juga menyisipkan sentuhan personal. Mereka membiarkan opini penulisnya menyusup dan orang tetap memakluminya. Sebab itulah blog.
Baca selengkapnya …

Abdullah Harahap dan Ratih Kumala

Buat yang penasaran dengan Abdullah Harahap, penulis novel-novel horor yang terkenal di tahun 70-80an, ini fotonya bersama istri saya, Ratih Kumala. Di umurnya yang sekitar 70 tahun, ia tampak masih sehat. Penasaran juga, apakah ia masih menulis?